GARUT, Cerita Rakyat – Dalam rangka menyiapkan rencana penguatan karakter tahun 2026, melalui rencana program Sekolah HEBAT (Hejo, Bersih, Dan Sehat), Pemerintah Kabupaten Garut berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menggelar Sosialisasi Proses Belajar Mengajar Program Sekolah Hebat Jenjang SMP Di Lingkungan Dinas Pendidikan Garut Tahun 2025, di Mandara Meeting Room, Tirtagangga Hot Spring Resort, Jl. Raya Cipanas No.130, Cimanganten, Kec. Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Senin (8/12/2025)
Kegiatan kolaborasi Pemkab. Garut melalui ketua tim sekolah HEBAT, dr. Maskur Farid, MM, yang melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, DP2KBP3A, Dinas Kesehatan Garut, dan Dinas Lingkungan Hidup ini diikuti oleh para pengawas dan para kepala sekolah jenjang SMP se –Kabupaten Garut.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Teguh Iman Pribadi, S.Kom, M.AP, didampingi Kasi Kurikulum SMP, Dr. Ajang Rusmana, M.Pd, mengatakan bahwa, kegiatan ini adalah sosialisasi program sekolah hebat (PSH), dimana isinya adalah kegiatan yang menghadirkan para pengawas SMP ditambah dengan kepala SMP se-Kabupaten Garut.
“Bukan hanya jenjang SMP saja, salah satu kepala SD yang akan dijadikan tempat launching PSA/PSH yakni SDN 3 Haur Panggung dan satu pengawas SD pun mengikuti kegiatan sosialisasi ini, nah maksud dari program sekolah hebat ini adalah naungan atau rumah besar bagi program-program sekolah yang sudah berjalan,” ungkapnya.
Hal senada dikatakan kasi kurikulum Bidang SMP Dinas Pendidikan Garut, Dr. Ajang Rusmana, M.Pd, bahwa sosialisasi ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi kerjasama antar SKPD di bawah sekretariat daerah, semua kegiatan-kegiatan terfokus dan di program menjadi satu kesatuan komando yang ada di program sekolah hebat ini, termasuk banyak SKPD yang insya Allah nanti akan direkrut.
“Artinya kalau saat ini atau waktu yang lalu, kegiatan yang menjadi tanggung jawab SKPD itu berjalan masing-masing, misalnya Dinas Kesehatan dengan berbagai kegiatan, mulai dari contoh kegiatan tablet tambah darah, cek kesehatan gratis yang berjalan masing-masing, nah sekarang itu, semua kegiatan itu dikoordinasikan di program sekolah hebat,” kata Ajang.
Menurutnya, Adapun contoh organisasi kesehatan dari dunia selingkungan hidup, misalnya mempunyai sekolah adiwiyata yang terkadang dinas pendidikan itu sendiri masih berpikir sasaran kepada Adiwiyata, sekarang itu menjadi atau merupakan suatu bentuk-kerjasama antar SKPD di bawah sekretariat daerah maka semua kegiatan-kegiatan itu terfokus dan di program.
“Insya Allah Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan akan tahu program-program yang akan dilaksanakan kalau sasarannya adalah satuan pendidikan dan peserta didik. termasuk nanti ke depannya ketika program sudah berjalan,” tuturnya.
Ajang menambahkan bahwa, isi dalam kegiatan-kegiatan sekolah hebat implementasinya di sekolah tidak ada mata pelajaran khusus, tapi ini program namanya, program itu bukan wujud dalam mata pelajaran, tapi pelaksanaannya bisa memperkuat mata pelajaran atau dalam kegiatan kokurikuler.
“Itu adalah upaya kita menaungi semua kegiatan yang saat ini sudah berjalan dan kita kuatkan sehingga sekolah bisa terkontrol semua, apakah sekolah melaksanakan program, dan program apa yang di jalankan di sekolah tersebut,” tambahnya.
Ajang menjelaskan bahwa, Pada hari pertama sosialisasi, terdapat beberapa bahan-bahan yang disiapkan yang disampaikan oleh setiap SKPD (Dinkes, DLH, dan Dinas KB), kemudian hari Rabu nanti, akan disusun apa saja yang akan dilaksanakan oleh sekolah, di hari berikutnya akan dirumuskan tentang adanya penjadwalan dan adanya pemahaman guru dan kepala sekolah tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh tiga SKPD tersebut, jadi semuanya akan dirumuskan termasuk lembar instrumen monitoring .
“Terdapat indikasi seperti ini, programnya berjalan tapi daya dukung atau bukti-bukti otentiknya seperti dokumen yang disediakannya apa, program kegiatannya seperti apa, itu nanti dirumuskan. Dengan kata lain bukan pendukung action-nya saja dilaksanakan, tapi dibuktikan dengan kegiatan-kegiatannya,” jelasnya.
Ajang pun menerangkan, awal penerapan tentunya mungkin ada berbagai hal yang dianggap menjadi beban sekolah, tapi Insya Allah, kami Dinas Pendidikan membantu baik secara moril maupun secara materiil ke depannya, intinya program ini harus berjalan sesuai dengan target, karena pada intinya membantu SKPD yang lain dengan program kerjanya yang sasarannya adalah peserta didik dan sekolah.
“Kami memfasilitasi kalaupun program itu sudah berjalan tapi efektivitasnya belum bagus karena masih dilaksanakan secara parsial secara terpisah-pisah, tapi dengan adanya program sekolah hebat ini, mudah-mudahan semua kegiatan itu menjadi satu kesatuan yang dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, intinya ini bukan penambahan mata pelajaran ataupun buku pelajaran, tapi lebih kepada penguatan karakter termasuk penguatan program yang sudah berjalan,” terangnya.
Selain itu, tegas Ajang, kendalanya masih banyak, pertama karena ini sesuatu yang baru untuk tahun yang jadi Leading sektor kegiatan PSA ini, anggaran tidak ada, Insya Allah untuk tahun 2006-2027 mudah-mudahan anggaran kegiatan untuk program sekolah hebat ini ada, dan sudah diusulkan kemarin tapi kami tidak tahu apakah di acc atau tidak oleh pihak DPR kan ada asistensi dari DPR.
“Insya Allah untuk kegiatan PSA di tahun 2006 karena kami targetnya kan tahun ajaran 2026, semua sekolah diharapkan bisa melaksanakannya, tapi intinya kalaupun misalnya kami menginstruksikan sekolah belum siap juga, kami tidak bebas untuk memaksa, dipaksa pun sekolah harus melaksanakan itu akan mengalami kesulitan, tapi kalau untuk sekarang kalau dilihat sekarang ini respon dari sekolah sendiri itu rensponsive dan proaktif pada kegiatan ini,” tegasnya.
Ajang berharap, mudah-mudahan tahun pelajaran 2026 2007, program ini bisa berjalan dengan baik secara berkala, dan tentunya harus ada kesiapan dari pihak sekolah untuk melaksanakan program-program sahabat yang tentunya dilaksanakan secara tanggung jawab. Kami juga belum selesai, karena menyangkut masalah substansi dari masing-masing SKPD kalau dilihat terdapat adanya proses interaksi antara pemateri dengan peserta didik, dimana namanya proses pembelajaran harus direncanakan, dari mulai perencanaan dan pelaksanaan secara keilmuan guru dan kepala sekolah.
“Maka dari itu, materi yang disampaikan oleh rekan-rekan dari dinas yang lain kita dengarkan, kita catat, dan kita rangkum menjadi sebuah bahan ajar, karena kalau nanti mengandalkan semua orang dari dinas tersebut, tentu ada keterbatasan sumber daya manusia, artinya ke depan akan dilaksanakan oleh sekolah melalui guru,” tandasnya (Deni)
GARUT, Cerita Rakyat – Aksi Heroik kembali ditunjukan oleh seorang anggota Satpolairud Polres Garut, Briptu…
GARUT, Cerita Rakyat – Bertempat di Aula Dewi Sartika Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jl. Pembangunan…
GARUT, Cerita Rakyat – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, meresmikan…
GARUT, Cerita Rakyat – Bertempat di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat,…
GARUT, Cerita Rakyat – Seorang pemilik usaha di kawasan pantai santolo, inisial RA (41) perempuan…
GARUT, Cerita Rakyat – Dalam rangka meningkatkan keselamatan wisatawan serta mencegah terjadinya kecelakaan dan laka…