Oplus_132098
GARUT, Cerita Rakyat – Nara Sumber sekaligus Dosen Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. Siswanto Agus Wilopo, SU. MSc. ScD, bersama tim menyampaikan bahwa, program PKRS berawal muncul hasil dari penelitian akibat dari masalah kesehatan dari produksi remaja yang masih tabu, melalui penelitian akhirnya tergali beberapa materi hasil pengembangan dari beberapa negara.
“Dari hasil galian materi di Afrika, Pakistan, dan negara lainnya, melalui bantuan dari Kid Foundation dan juga pemerintah Belanda, maka disusunlah buku yang digunakan untuk semua anak remaja di Afrika-Indonesia dan beberapa Negara Asia, sebuah buku yang diberi nama SETARA (Semangat Generasi Dunia Remaja),” Ungkap Prof. Siswanto pada acara kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kemampuan Guru Dalam mengimplementasikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Seksualitas (PKRS) jenjang SMP Tahun 2025 di Mandara Meeting Room Hotel Tirtagangga Garut, Jl. Raya Cipanas No. 130, Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kamis (20/11/2025).
Menurut Prof. Siswanto, buku SETARA tersebut tidak langsung diberikan begitu saja tanpa suatu penelitian, karena kita selalu mengharapkan semua kebijakan itu harus ada bukti ilmiahnya, apakah kebijakannya betul-betul ada gunanya atau tidak.
“Penerapannya kita memilih anak-anak jenjang SMP di tiga provinsi, diantaranya Jawa Tengah, Bali, dan Lampung untuk diberikan pelajaran SETARA yang terus dievaluasi, diuji dan sebagainya, hasilnya menggembirakan pada hal-hal yang terkait dengan perilaku reproduksi,” ujarnya.
Prof. Siswanto menyebutkan bahwa, proses evaluasi terus dilakukan terhadap pendidikan, dengan sampel rentan usia kelas 7 sampai kelas 8 berikut gurunya di tiga daerah, hasil pemahaman eksplorasi secara kualitatifnya ini masih bisa disempurnakan lagi.
“Masalah utamanya memang anak-anak ini tidak ada tempat untuk mencurahkan tentang masalah yang dihadapi, karena komunikasi dengan orang tua itu hanya berkisar di 20 sekian persen,” sebutnya.
Prof. Siswanto berharap bahwa melalui program PKRS ini melalui pembelajaran SETARA bisa membuat hubungan komunikasi antara anak dan orang tua di rumah bisa lebih terjalin baik dan lebih rekat lagi dalam memahami kondisi anak.
Hal senada dikatakan Nara Sumber UGM lainnya, Dr. Heru Subekti, S.Kep,.NS,.MPH, bahwa, pada Bimtek yang digelar Dinas Pendidikan Garut, kami ingin melihat langsung bagaimana tentunya peranan ibu bapak guru semua dalam kegiatan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di sekolah, apakah semuanya itu sudah diimplementasikannya secara benar.
Ia pun mengatakan bahwa, terkait kendala tantangan dan lain sebagainya sudah pernah dievaluasi sekitar 1 tahun yang lalu, dimana tentang bagaimana pelaksanaan dan efektivitas dari program secara di sekolah.
“Dari hasil implementasi ternyata dilihat bahwa remaja itu tidak hanya semata-mata persoalan di sektor sekolah saja, tapi keluarga menjadi hal yang diduga kuat memiliki peranan yang sangat penting terhadap kesehatan reproduksi dan seksualitas pada remaja,” kata Dr. Heru
Dr. Heru menyampaikan bahwa, kenapa remaja ini menjadi hal yang sangat penting dan seterusnya, serta juga menemukan fakta bahwa ternyata banyak orang tua mereka tidak mengetahui apa yang mereka harus lakukan pada saat anaknya masuk pada fase-fase tertentu.
“Contohnya ketika remaja masuk kepada fase pubertas, Jadi mereka tidak tahu tuh, salah satu temuan di Lombok, itu banyak orang tua terutama ibu-ibunya itu pergi ke luar negeri sehingga yang mengasuh adalah bapaknya, dan bapaknya itu tidak pernah tahu kalau anaknya itu menstruasi, sedangkan bapaknya tidak tahu seperti apa dan harus bagaimana cara menyikapinya,” tambahnya
Dr. Heru menyebutkan bahwa, Isu remaja ini menjadi sangat serius karena diketahui bersama bahwa populasi remaja juga sangat besar dan ini menjadi salah satu faktor yang bisa menentukan arah bagaimana kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
“Jadi dimensinya sebetulnya tidak hanya dari aspek organ reproduksi saja tapi termasuk masalah mental pada remaja,” sebutnya.
Dr. Heru menjelaskan, selama ini banyak dilakukan oleh orang tua itu kadang-kadang justru komunikasinya, bukan komunikasi yang membuat hubungan antara anak dan orang tua semakin baik, tapi komunikasi yang diciptakan itu justru malah menciptakan hubungan antara orang tua dan anak semakin melebar.
“Karena ternyata yang selama ini terjadi, banyak yang kita temukan itu, mayoritas orang tua kalau komunikasi dengan anak tanpa disadari isinya hanya perintah dan larangan seperti belajar, mengaji, dan lainya walaupun tujuannya bagus untuk mendidik disiplin,” jelasnya
Sementara itu, Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI), Desrina Dewi Respati mengatakan bahwa, modul setara ini merupakan MOU dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, yang akhirnya diadopsi secara nasional.
“Jadi memang mereka juga akhirnya memiliki modul di level nasional,” kata Desrina.
Desrina berharap, agar nanti bisa direncanakan tindak lanjut kedepannya, supaya hasil inisiatif ini kemudian dapat dijalankan supaya memperoleh hasil yang lebih optimal, serta para remaja agar lebih memahami lagi mengenai kesehatan reproduksinya. (Deni)
GARUT, Cerita Rakyat – Aksi Heroik kembali ditunjukan oleh seorang anggota Satpolairud Polres Garut, Briptu…
GARUT, Cerita Rakyat – Bertempat di Aula Dewi Sartika Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jl. Pembangunan…
GARUT, Cerita Rakyat – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, meresmikan…
GARUT, Cerita Rakyat – Bertempat di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat,…
GARUT, Cerita Rakyat – Seorang pemilik usaha di kawasan pantai santolo, inisial RA (41) perempuan…
GARUT, Cerita Rakyat – Dalam rangka meningkatkan keselamatan wisatawan serta mencegah terjadinya kecelakaan dan laka…